Pages - Menu

Biografi Imam A Zuhri

Namanya: Muhammad bin Muslim bin Abdillah bin Syihab bin Abdillah bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kitab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib.
Dia adalah seorang Imam yang luas ilmunya, al-Hafizh di zamannya, Abu Bakar  Al-Qurasy Az-Zuhri  al-Madani. Dia bertempat tinggal di Syam.
Kelahirannya. Duhaim dan Ahmad bin Shaleh berkata, “ Dia lahir pada tahun 50 Hijriyah, “Khulaifah bin Khayyat berkata, “Dia dilahirkan pada tahun 51 Hijriyah. [1]
Sifat-sifatnya: Muhammad bin Yahya bin Abi Umar dari Sufyan berkata, “aku pernah melihat Az-Zuhri dengan rambut dan jenggotnya yang berwarna kemerah-merahan.”
Adz-Dzahabi berkata, “Dia adalah orang yang terhormat dan senang memakai pakaian militer, mempunyai perangai yang baik dalam pemerintahan Bani Umayyah.[2]
 Senjungan Para Ulama terhadapnya
Dari Amr bin Dinar, dia berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih mendalami ilmu hadits dari Ibnu Syihab.[3]
Umar bin Abdul Aziz bertanya, “apakah kalian mau menemui Ibnu Syihab (Imam Az-Zuhri)?” mereka menjawab, “Kami akan melakukannya.” Dia berkata, “Temuilah dia, karena sesungguhnya tidak ada yang tersisa saat ini  orang yang lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Saw daripadanya.”
Dari Ad-Darawardi dia berkata, “sesungguhnya orang yang pertama kali menyusun dan membukukan ilmu pengetahuan adalah Ibnu Syihab (Imam Az-Zuhri).
Dari Ahmad bin Hambal, dia berkata, “az-Zuhri adalah orang yang paling kompeten dalam hadits dan yang paling baik sanadnya.”[4]
Sebab-sebab keunggulannya di Bidang Ilmu Pengetahuan
a). Kekuatan kekuatannya Hafalannya
Adz-Dzahabi berkata, “Dari kehebatan hafalan Az-Zuhri adalah dia menghafal Al-Qur’an dalam 80 malam. Hal ini dikisahkan darinya oleh keponakannya Muhammad bin Abdillah.[5]
Dari Abdurrahman bin Ishaq dari Az-Zuhri, dia berkata, “Aku sama sekali belum pernah mengulangi sebuah hadits dan juga tidak ragu dalam menghafalnya kecuali hanya satu saja, kemudian aku menanyakannya kepada temanku dan ternyata hadits itu memang seperti yang telah aku hafal.[6]
b). Dia menulis Semua Apa yang Didegarnya
Dari Abdurrahman bin Abi Az-Zinad dari ayahnya, dia berkata, “Aku saat itu sedang melakukan Thawaf bersama dengan Ibnu Syihab. Ibn Syihab membawa selembar kertas dan papan tulis, dia berkata “Dan kami tertawa bersama karenanya.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “kami saat itu sedang belajar dan menulis tentang halal dan haram dan ibn Syihab. Ibnu Syihab membawa selembar kertas dan papan tulis, dia berkata, “Dan kami tertawa bersama-sama karenanya”.[7]
c). Selalu Mengulang dan Mempelajarinya
Dari Al-Auza’I dari Az-Zuhri, dia berkata, “Ilmu pengetahuan sirna karena penyakit lupa dan tidak mempelajarinya.”
Dari Ya’kub bin Abdirrahman, dia berkata, “Sesungguhnya Az-Zuhri pernah menuntut ilmu kepada Urwah dan yang lain, kemudian dia  membangunkan seorang budak perempuannya yang masih tertidur, lalu dia berkata kepadanya. “si Fulan sedang begini, begini.” Si budak itu berkata, “Apa ini?” dia kemudian berkata, “Aku telah tahu bahwa kamu tidak dapat memanfaatkannya, akan tetapi aku sudah mendengar dan aku ingin mengingatnya (mempelajarinya)”[8]
d). Sering Berteman dan Mendekati kepada Orang yang Berilmu Serta Memberikan Sedikit Banyak Pengabdian Kepada Mereka
Dari malik bin Anas dari Az-Zuhri, dia berkata, “Aku pernah mengabdi kepada Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah, hingga suatu ketika aku ingin menemaninya keluar dan aku menunggunya di balik pintunya. Dia berseru, “siapa yang mengetuk pintu?” seorang budak perempuannya berkata, “pembantu anda!” sang pembantu mengira bahwa aku adalah pembantuhnya, walaupun aku hanya mengambdi kepadanya hingga mengambilkan air wudhu untuknya.”[9]
e). Memuliakan Orang yang berilmu
 Dari Sufyan, dia berkata, “Aku pernah mendengar Az-Zuhri mengatakan, “Si Fulan telah memberitahukan, dia ini seorang yang peduli dengan ilmu pengetahuan, “dia tidak mengatakan, “Dia seorang yang berilmu pengetahuan.”[10]
f). Berusaha untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu hafalan dan menghindari kelupaan
Dari Ibn Wahb dari Al-Laits, “Dia berkata bahwa Ibn Syihab pernah berkata, “Aku belum pernah menghafal sesuatu pun lalu begitu saja.” Dia tidak senang makan buah apel dan sering meminum madu. Dia mengatakan bahwa meminum madu akan membantu daya ingatan.”[11]
4. Kemurahan hati dan kemuliannya
Ibnu Syihab berkata, “Wahai Fulan, pijatlah aku seperti biasanya, dan akan aku lipatkan upahmu seperti yang kamu ketahui.” Dia senang memberikan makan kepada banyak orang yang membutuhkan dan member mereka minuman madu.”[12]
5. Guru dan Murid-muridnya
Guru-gurunya: Dia meriwatkan dari Sahl bin Sa’ad, Anas bin Malik dan dia bertemu dengan mereka berdua ini di Damaskus. Dia juga meriwayatkan dari As-Sa’ib dari Yazid, Abdullah bin Tsa’labah bin Sughair, Mahmud bin Ar-Rabi’, Mahmud bin Lubaid, dll[13]
Murid-muridnya: Adz-Dzahabi berkata, “beberapa orang yang meriwayatkan darinya antara lain; Atha’ bin Abi Rabah, dia lebih tua darinya dan meninggal dunia dua puluh-an lebih dulu sebelum dia meninggal. Amr bin Dinar, Amr bin Syu’aib, Qatadah bin Du’amah, Zaid bin Aslam, Tha’ifah, Manshur bin Al-Mu’tamir, Ayyub As-Sakhtiani dll[14]
6. Dari Mutiara perkataannya
Dari Yunus, dia berkata, “Az-Zuhri berkata, “Takutlah kamu dari membelenggu kitab.” Aku bertanya,” apa belenggunya?” dia berkata, “menggudangkannya (tanpa dibaca).
Dari Az-Zuhri dia berkata, “kami bersama-sama belajar menuntut ilmu dari seseorang dan kami lebih senang mempelajari akhlaknya dari mempelajari ilmunya.”[15]
 
SUMBER:

No comments:

Post a Comment

Post a Comment